MIKROTIK: Static Routing

·

Simply, Static Routing berasal dari dua kata, yaitu Static yang berarti manual dan Routing yang berarti perutean. Jadi, Static Routing adalah metode routing yang dikonfigurasi secara manual oleh administrator jaringan untuk menentukan jalur terbaik menuju jaringan tujuan.

Pada metode ini, administrator harus mengetahui informasi jaringan, seperti Network Address, Subnet Mask, dan Gateway tujuan agar proses routing dapat berjalan dengan benar.

Karena seluruh konfigurasi dilakukan secara manual, Static Routing lebih cocok digunakan pada jaringan berskala kecil, misalnya yang terdiri dari sekitar 2 hingga 10 router. Untuk jaringan yang lebih besar dengan puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan router, penggunaan Static Routing menjadi kurang efisien karena setiap perubahan harus dikonfigurasi secara manual pada setiap router.

Bayangkan jika Static Routing diterapkan pada jaringan Enterprise yang memiliki banyak router dan subnet. Administrator harus mengetahui seluruh informasi jaringan yang ada, kemudian menambahkan atau memperbarui setiap rute secara manual pada router yang diperlukan. Jika terjadi perubahan topologi jaringan, misalnya penambahan subnet, pergantian gateway, atau perubahan jalur, maka seluruh routing table yang terdampak juga harus diperbarui satu per satu. Proses ini tentu memakan waktu, rentan terjadi kesalahan konfigurasi (human error), dan cukup merepotkan untuk dikelola.

Jadi untuk jaringan yang masih berskala kecil, pakai Static Routing saja. Sedangkan untuk yg sudah berskala besar, pakai Dynamic Routing.

Istilah-istilah dalam Routing

  • Dst Network Address → Merupakan alamat network tujuan yang akan dihubungkan
  • Dst Subnetmask → Merupakan netmask/nilai prefix yang digunakan oleh alamat network tujuan
  • Gateway → Merupakan pintu gerbang awal yang pertama kali dilewati apabila ingin ke tujuan. Gateway harus satu jaringan dengan jaringan kita

Flag Routing MikroTik

Ketika masuk ke menu IP > Routes, kita akan menemukan beberapa flag huruf disebelah kiri rule routing yang ada pada menu tersebut.

Itu flag apaan? Maksudnya apa?

Saat melihat Routing Table, kamu mungkin akan menemukan beberapa huruf di bagian depan setiap route, seperti S, D, C, atau A. Huruf-huruf tersebut disebut flag.

Flag adalah penanda yang memberikan informasi singkat mengenai sebuah route, seperti:

  • Jenis routing yang digunakan (misalnya Static, Dynamic, atau Connected).
  • Status route, apakah route tersebut sedang aktif atau tidak.
  • Asal usul route, apakah dibuat secara manual oleh administrator atau dipelajari secara otomatis melalui routing protocol.

Dengan melihat flag, administrator dapat lebih mudah memahami kondisi dan sumber dari setiap route yang ada di dalam Routing Table.

  • S = Static Route
  • D = Dynamic
  • A = Active
  • C = Connected
  • o = OSPF (Dynamic Routing OSPF)
  • r = RIP (Dynamic Routing RIP)
  • etc

Contohnya :

  • DAC → Dynamic Active Connected, rule routing ini muncul atau dibuat secara otomatis, sedang aktif, dan bersifat directly connected dengan router. Rule ini akan muncul ketika mengisi IP Addr dimenu IP > Address untuk interface tertentu.
  • DAS → Dynamic Active Static, rule routing ini muncul atau dibuat secara otomatis, sedang aktif, dan routing tersebut merupakan static routing.
  • AS → Active Static, rule routing ini muncul atau dibuat secara manual, sedang aktif, dan routing tersebut merupakan static routing.
  • DAr → Dynamic Active RIP, rule routing dibuat secara dynamic, sedang aktif, dan routing yang digunakan jenis dynamic routing RIP.

Konfigurasi Static Routing 2 Router

Disclaimer: Pada artikel ini saya menggunakan RouterOS versi 6, bukan RouterOS versi 7 yang merupakan versi terbaru saat ini. Oleh karena itu, mungkin terdapat sedikit perbedaan pada tampilan maupun beberapa perintah yang digunakan. Namun, perbedaan tersebut tidak terlalu signifikan karena konsep dasar Static Routing tetap sama pada kedua versi.

By default, PC1 dan PC2 belum dapat saling berkomunikasi karena berada pada subnet yang berbeda. Hal ini disebabkan R1 dan R2 belum memiliki informasi rute menuju jaringan di belakang router lainnya, sehingga paket tidak dapat diteruskan ke tujuan. Pada topologi di atas dapat disimpulkan bahwasannya terdapat 3 jaringan yang berbeda, yakni 192.168.10.0/30, 10.10.10.16/30, dan 192.168.11.0/30.

R1 terhubung ke jaringan 10.10.10.16/30 di Ether 1, dan 192.168.10.0/30 di Ether 2

  • Ether 1 = 10.10.10.17
  • Ether 2 = 192.168.10.1

R2 terhubung ke jaringan 10.10.10.16/30 di Ether 1, dan 192.168.11.0/30 di Ether 2

  • Ether 1 = 10.10.10.18
  • Ether 2 = 192.168.11.1
Konfigurasi R1

Pertama, lakukan pemberian IP Address, dan Subnetmask pada setiap Interface sesuai dengan topologi di menu IP > Addresses > Add

Kemudian, lakukan konfigurasi Static Routing ke network addr 192.168.11.0/30. Kenapa tidak routing ke 192.168.10.0/30 dan 10.10.10.16/30? Karena kedua network addr tersebut directly sudah terhubung dengan R1. Jadi, yah..secara otomatis sudah memang terhubung, sehingga ga perlu routing lagi deh…

Gateway yang akan dilewati ialah alamat 10.10.10.18…kenapa alamat tersebut? Karena R1 apabila ingin menuju ke network addr 192.168.11.0/30, maka packetnya akan melewati eth1 dari R2 terlebih dahulu (10.10.10.18).

Set di menu IP > Routes > Add

Setelah di set, harusnya di routing table akan muncul Flag AS (Active Static) untuk Dst-Address 192.168.11.0/30. Kenapa AS? Karena rule itu kita buat secara manual atau static, rulenya sedang aktif, dan routingnya merupakan jenis static routing.

Nah, berarti sekarang PC1 dan PC2 sudah bisa saling berkomunikasi atau saling PING donk? Jawabannya, belum…

Kenapa belum? karena R2 belum melakukan routing balik ke jaringan yang dibawah R1 (192.168.10.0/30).

Konfigurasi R2

Pertama, lakukan pemberian IP Address, dan Subnetmask juga pada setiap Interface sesuai dengan topologi di menu IP > Addresses > Add

Kemudian, lakukan konfigurasi Static Routing balik ke network addr 192.168.10.0/30 saja, tidak ke 10.10.10.16/30 dan 192.168.11.0/30.

Gateway yang akan dilewati ialah alamat 10.10.10.17…kenapa alamat tersebut? Karena R2 apabila ingin menuju ke network addr 192.168.10.0/30, maka packetnya akan melewati eth1 dari R1 terlebih dahulu (10.10.10.17).

Set di menu IP > Routes > Add

Nah, sekarang harusnya sudah bisa nih PC1 dan PC2 nya berkomunikasi atau saling PING…

Testing
PC1 (192.168.10.2) to PC2 (192.168.11.2):
PC2 (192.168.11.2) to PC1 (192.168.10.2)

Nah, ini masih 2 Router nih, masih easy lah hehehe. Sekarang, kita coba yang lebih advanced lagi, kita coba Static Routing 4 Router…

Konfigurasi Static Routing 4 Router

Dari topologi di atas dapa disimpulkan bahwasannya :

Terdapat 5 jaringan yang berbeda, yakni 192.168.10.0/30, 172.16.10.0/30, 10.10.10.0/30, 172.16.100.0/30, dan 192.168.20.0/30.

R1 terhubung ke jaringan 172.16.10.0/30 di Ether 1, dan 192.168.10.0/30 di Ether 2

  • Ether 1 = 172.16.10.1
  • Ether 2 = 192.168.10.1

R2 terhubung ke jaringan 10.10.10.0/30 di Ether 1, dan 172.16.10.0/30 di Ether 2

  • Ether 1 = 10.10.10.1
  • Ether 2 = 172.16.10.2

R3 terhubung ke jaringan 10.10.10.0/30 di Ether 1, dan 172.16.100.0/30 di Ether 2

  • Ether 1 = 10.10.10.2
  • Ether 2 = 172.16.100.2

R4 terhubung ke jaringan 172.16.100.0/30 di Ether 1, dan 192.168.20.0/30 di Ether 2

  • Ether 1 = 172.16.100.1
  • Ether 2 = 192.168.20.1
Konfigurasi

Pertama, setup IP Address maupun Subnetmask disetiap router pada setiap interfacenya sesuai dengan topologi diatas seperti biasanya.

Kemudian, lakukan konfigurasi routing untuk setiap jaringan yang not directly connected dengan router, sehingga seluruh perangkat disetiap jaringan yang berbeda dapat berkomunikasi, termasuk juga PC1 dan PC2.

R1

Jikalau dilihat pada topologi, PC1 (R1) apabila ingin sampai ke PC2 (R4) harus melewati 3 jaringan yang tidak terhubung langsung dengannya/beda jaringan, yakni 10.10.10.0/30, 172.16.100.0/30, dan 192.168.20.0/30. Untuk sampai ke ketiga alamat tersebut, R1 harus melewati alamat gateway 172.16.10.2

Harusnya akan muncul tiga Flag AS seperti ini di Routing Tablenya:

R2

Jikalau dilihat pada topologi, PC2 not directly connected dengan jaringan 192.168.10.0/30, 172.16.100.0/30, dan 192.168.20.0/30. Nah…disitulah kita harus menghubungkan R2 ke ketiga jaringan tersebut, agar seluruh perangkat dapat berkomunikasi, termasuk PC1 dan PC2. Apabila R2 ingin menuju ke jaringan 192.168.10.0/30, maka ia harus melewati gateway 172.16.10.1, dan apabila R2 ingin menuju ke 172.16.100.0/30 dan 192.168.20.0/30, maka ia harus melewati gateway 10.10.10.2

Daftar routing table:

R3

R3 secara langsung terhubung dengan jaringan 10.10.10.0/30 dan 172.16.100.0/30, maka untuk kedua jaringan tersebut tidak perlu dirouting. R3 not directly connected dengan jaringan 192.168.10.0/30, 172.16.10.0/30, dan 192.168.20.0/30, ketiga jaringan inilah yang harus dihubungkan dengan cara routing. R3 apabila ingin menuju ke 192.168.10.0/30 dan 172.16.10.0/30, maka ia harus melewati gateway 10.10.10.1. Kemudian, apabila R3 ingin menuju ke 192.168.20.0/30, maka ia harus melewati gateway 172.16.100.1

Daftar routing table:

R4

R4 not directly connected dengan jaringan 10.10.10.0/30, 172.16.10.0/30, dan 192.168.10.0/30. Maka, R4 harus terhubung dengan ketiga jaringan tersebut. Untuk sampai ke ketiga alamat tersebut, R4 harus melewati gateway 172.16.100.2

Daftar routing table:

Testing
PC1 (192.168.10.2) to PC2 (192.168.20.2)
PC2 (192.168.20.2) to PC1 (192.168.10.2)

Tinggalkan Balasan

Get updates

From art exploration to the latest archeological findings, all here in our weekly newsletter.

Subscribe

Eksplorasi konten lain dari Muhammad Ferdiansyah

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca